Kethoprak

Sabtu pagi kita jalan-jalan untuk mensyukuri nikmat Allah berupa segarnya oksigen pagi yang dikeluarkan oleh pepohonan di sekitar perumahan Montana Jababeka.

Kembali ke rumah sudah masuk waktu sarapan, dan kitapun (sekali-kali) makan “kethoprak” yang kebetulan lewat di depan rumah.

Pak Penjual “Kethoprak” itu cerita tentang susahnya nyari kerjaan jaman sekarang. Pagi hari berangkat, ngetem di pasar dan jam 10-an keliling kampung, hasilnya ya hanya untuk penyambung hidup saja.

Alternatif pekerjaan yang lain belum didapat, sehingga yang ada terus ditekuni sambil berdoa (‘kali) agar dapat rejeki yang mencukupi.

Ketika kubayar, ternyata gak ada kembalian. Baru keluarga kami yang membeli, katanya, sehingga belum ada uang sepeserpun.

Akhirnya, nambah pesanan lagi agar nggak perlu ngembalikan uang.

Dari awalnya hanya mau pesen dua porsi, berkembang menjadi 3 porsi dan akhirnya lima porsi, sehingga lengkap sudah semua anggota keluarga menyantap “kethoprak” di teras rumah.

Pak Penjual puas karena laku dagangannya dan tidak perlu pusing dengan uang kembalian, dan keluargaku puas menikmati “kethoprak” di teras rumah sambil ngobrol ngalor ngidul.

Kebahagiaan ada dimana-mana, tinggal kita mampu melihatnya atau tidak. Insya Allah, yang Maha Kuasa selalu memberi kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Amin.

Sarapan (139)

Leave a Reply