Senyuman Buat Deddy Mizwar

Dul, lu jadi milih Bang Deddy?”

“Jelas donk, siapa lagi yang bisa dipilih bang?”

“Kenapa sih milih bang Deddy?”

“Yah.. abang ini. Selama ini kita sudah sering milih aktor politik yang hanya bisa bikin janji tapi giliran ngasih bukti, he..he..he.. dia malah ngomong yang lain. Cape’ deh…”

“Emang kalau bang Deddy bisa ngasih bukti?”

“Lho, aktor poltik aja udah nggak bisa ngasih janji apalagi aktor beneran, ya lebih banyak janjinya donK. Ha…ha..ha..ha…”

Berderailah tawa para pemuda yang nongkrong di kantin itu. Pembicaraan tentang politik memang hampir selalu mewarnai suasana makan siang di kantin. Apapun topik obrolannya, akhirnya masuk juga ke ranah politik.

Karena yang terlibat dalam obrolan adalah orang yang buta politik, maka analisanyapun dijamin awur-awuran. Analisa yang ngalor ngidul itu justru menjadi bumbu penyedap topik pembicaraan. Apalagi ketika Udin yang kocak ikut bergabung. Obrolan terasa makin renyah.

Namun obrolan yang makin penuh canda tentang pencalonan Deddy Mizwar tiba-tiba berhenti ketika sosok laki-laki berkaca mata minus masuk ke kantin.

“Hey.. kok tiba-tiba berhenti ngobrolnya. Dari luar tadi kudengar rame banget ketawanya?”, kata lelaki itu.

“Ngga apa-apa Bang, ini kawan-kawan tadi baru ngobrolin pak Dhe”, jawab Ade sekenanya.

“Gak biasanya kalau ngobrol tentang pak Dhe kalian bisa ketawa begitu lepas. Biasanya kalau ngobrol tentang pak Dhe pasti masalah mushola atau masalah serikat pekerja, nggak pernah sampai pakai ketawa kayak tadi”, penasaran sang lelaki itu kembali mengejar dengan pertanyaan yang membuat suasana jadi hening dan peserta obrolan siang di kantin itu jadi serba salah.

“Gini mas Khalid, yang kita obrolkan memang bukan pak Dhe kita tetapi pak Dhe..di Mizwar”, akhirnya Udin yang angkat bicara, karena melihat teman-temannya pada celingukan

“Memang kenapa dengan Deddy Mizwar? Bukankah boleh dia mencalonkan diri?”, Khalid kembali bertanya.

Obrolan jadi terasa berat, karena materi obrolan adalah ranah politik yang diobrolkan oleh orang yang ngefans dengan seseorang capres dan peserta obrolan lainnya adalah mereka yang semi-semi golput.

“Apa kalian tidak paham dengan kondisi Indonesia saat ini yang carut marut. Apa kalian tidak paham dengan kelakuan para politikus yang wajahnya terpampang dimana-mana dan janjinya juga sudah kemana-mana

“Para politikus itu tiap pemilu selalu menebar janji tanpa ada bukti dan mereka selalu memperbarui janji mereka, setiap pesta rakyat ini datang lagi”

“Lalu apa sih yang diharapkan dari mereka?”

Berapi-api Khalid menyampaikan pandangan politiknya. Sementara para pendengarnya sudah kehilangan selera untuk ber”haha-hihi” dengan topik politik. Mereka ingin mendebat Khalid, tapi mereka sadar bahwa perdebatan yang terjadi bisa saja mengarah ke debat kusir, perpecahan bisa muncul di kelompok yang tadinya kompak ini.

Khalid baru berhenti bicara ketika pak Dhe memasuki kantin untuk makan siang. Biasanya, kalau sudah begini para pengobrol itu sudah mulai “cabut” dari kantin dan ngeloyor kemana-mana. Mereka rata-rata sungkan kalau ketawa terlalu lepas di depan pak Dhe.

Pak Dhe sendiri tidak seperti biasanya, dia tidak langsung pesan makan tapi malah mendekati kerumuman para pengobrol.

“Assalamu’alaikum”, sapa pak Dhe lengkap dengan senyum khasnya.

“Wa’alaikum salam”, serempak para pengobrol menjawab.

“Nanti malem, pulang kerja sampai menjelang maghrib akan ada ngobrol-ngobrol tentang pencalonan Mas Dedi sebagai pimpinan kita. Ada yang tertarik ikut?”

Terperangahlah mereka dengan undangan pak Dhe. Begitu hebatnya pengaruh Deddy Mizwar, sehingga seorang pak Dhe yang tidak jelas partainya ternyata akhirnya mengajak diskusi tentang Deddy Mizwar.

Pak Dhe biasanya hanya mau berdiskusi tentang kemaslahatan umat atau tentang memakmurkan mushola perusahaan dan selalu jauh dari hiruk pikuk politik, kecuali saat membahas toleransi terhadap gambar para caleg yang mengotori wajah jalanan.

“Memang siapa yang menggagas pertemuan itu pak Dhe”, Khalid langsung antusias.

“Pak Anton tuh. Aku sih seneng banget ada orang baru yang ikut jadi calon pemimpin kita. Hukumnya wajib didukung”, kata Pak Dhe.

Para pendengar jadi makin bingung dengan sikap pak Dhe. Rasanya ada yang aneh dengan sikap pak Dhe kali ini.

“Jadi pak Dhe mendukung juga ya?”, Khalid langsung bertambah antusias.

“Pasti Khalid. Aku pasti mendukung Dedi. Ha..ha.. dia berani bener tuh mencalonkan diri”, kali ini pak Dhe menebar ketawanya, sehingga para pendengar makin merasa ada yang aneh, tapi tidak bagi Khalid. Rasanya dukungan pak Dhe terhadap Dedi sangat berarti bagi dia.

“Bener pak Dhe mau milih dia?”, lanjut Khalid terus antusias.

“Wah, kalau memilih belum tentu. Aku masih perlu melihat programnya dan harus kubandingkan dengan program calon yang lain. Serikat Pekerja kita kan harus dipimpin oleh orang yang punya program jelas. Biarpun muda kalau Dedi punya program jelas, ya tentu kupilih tapi kalau programnya tidak jelas atau asal bikin sensasi, ya aku milih calon lain yang lebih baik programnya.”, pa Dhe menjelaskan dengan lebih hati-hati, karena dia merasa dikejar oleh Khalid.

“Pak Dhe, sebenarnya yang kita bahas ini Dedi yang mana sih?”, tak sabar, akhirnya Udin ikut bertanya.

“Ya Dedi karyawan bagian audit itu. Memang Dedi yang mana lagi yang dibahas. Rasanya hanya satu Dedi di perusahaan ini.”, pak Dhe balik bertanya.

“Tak kirain pak Dhe mbahas Deddy Mizwar”, kata Udin lega. Ketawapun kembali berderai di kelompok ini. Seperti biasa pak Dhe cukup tersenyum saja memandangi mereka yang sedang tertawa geli.

“Aku makan dulu ya, silahkan diteruskan obrolannya. Sampai ketemu nanti sore. Assalamu’alaikum”, ucap pak Dhe sebelum meninggalkan pembicaraan.

“Wa’alaikum salam”, jawab para pengobrol dengan perasaan masing-masing.

Pak Dhepun ngeloyor ke meja makanan meninggalkan kelompok salah sambung [kayak acara di radio Gen FM aja nih] di belakangnya.

Khalidpun dengan mantap tetap yakin bahwa Indonesia perlu tersenyum menyambut kebebasan berpolitik yang ada saat ini.

Udin dan kawan-kawan juga sepakat untuk memberikan dukungan terhadap pencalonan DM, tetapi belum memutuskan untuk memilih DM. Mereka terisnpirasi dengan dukungan pak Dhe terhadap Dedi calon Ketua Serikat Pekerja perusahaan.

Pilih yang anda sukai dan jangan tergoda janji yang selalu manis di mulut.

Bagaimana menurut anda?

11 thoughts on “Senyuman Buat Deddy Mizwar

  1. Pingback: Dongeng Pak Dhe [6] « Dongeng Pak Dhe

  2. Pingback: Pondok Cinta (YoGyA) | Dongeng Pak Dhe

  3. Pingback: Pondok Cinta (YoGyA) | Persatuan Artis Nasional [PAN]

  4. Pingback: Public Blog Kompasiana» Blog Archive » Partai Artis Nih [PAN]

  5. Day miss war = Ayah hilang dalam perang (terjemahan maksa…hehe)
    Semoga Indonesia memiliki pemimpin yang mencintai Allah dan dicintai Allah, mencintai rakyat dan dicintai rakyat. Amin

  6. @Kitaro

    doa yang ini semoga dikabulkan Allah
    kita pas ada dalam kondisi sehat lahir dan batin saat menontreng nanti
    insya Allah
    amin

    Salam

  7. hmmmm..jadi inget bahwa kita terkadang oleh bujuk ray sementara saja.
    sementara masa depan kita korbankan dengan mulusnya tanpa melihat lebih jelas dan detail dengan seksama.
    terkadang bahkan mungkin sering juga kita hanya melihat dari satu sisi tanpa mau memandang lebih ke dalam.
    Dan arti sebuah demokrasi terkadang juga disalahgunakan oleh sebagian orang saja untuk membuat pengejawantahan bagi diri mereka sendiri dan orang disekitarnya.
    semuanya bisa kita pahami dalam salah satu kerangkanya dengan menggunakan rasa dan pamikiran posytif bahwa mungkin dibalik ini semua ada sebuah hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil
    semoga mental kita semua tidak dalam kondisi yang labil ketika mencentang…(halaaaah…) :D

  8. Fiuh…… saya belum ada hak milih mas Eshape…. jadi belum nanggapi dulu yah…..

    Tapi, sebentar-sebentar, Pak Dhe ini tokoh khayalan mas Eshape atau benar-benar ada mas? Saya jadi penasaran……

Leave a Reply