Terjebak

Sore itu Andra main ke rumah Bu Lik dan sempat nguping pembicaraan Bu Lik dengan Tomi. Meski bisik-bisik di kamar, tapi tekanan emosi yang tinggi telah membuat suara Bu Lik terdengar sampai ke luar kamar.

“Kamu harus balik lagi ke Bandung Tom. Udah terlanjur di sana, jadi gak bisa balik lagi ke sini”

“…..”

“Pokonya, besok pagi kamu berangkat ke Bandung, nanti biar sama mas Andra. Dia juga mau ke Bandung besok”, wah Bu Lik sudah memulai kalimatnya dengan kata pokoknya, pasti urusan yang gawat, begitu pikir Andra.

“…..”, Tomi tak terdengar lagi jawabannya

Pintu kamar Tomi terbuka dan Bu Lik terlihat keluar dari kamar. Senyumnya langsung mengembang begitu melihat Andra yang sudah memegang cangkir kosong.

“Eeeee…. mau buat minum sendiri ya?”, sapa Bu Lik

“Iya donk Bu Lik, masak selalu dibuatin Bu Lik terus. Enak sih, tapi kapan dewasanya aku kalau semua dibuatin terus ama Bu Lik?”

Andra dan Bu Lik langsung tertawa bersama. Banyak kenangan di antara mereka, sehingga hanya keakraban yang selalu tercipta saat mereka bertemu.

Andra ingat benar ketika Bu Lik mengantarnya masuk ke TK. Dengan penuh kasih sayang Bu Lik menjaganya. Apalagi ternyata ada anak lain yang diantar oleh OmNya. Jadilah Bu Lik dan Si Om rajin mengantar ponakan masing-masing, sampai akhirnya mereka pacaran dan sekarang sudah mempunyai anak sebesar Tomi.

Esoknya, pagi-pagi ANdra sudah siap menemani Tomi meluncur ke Bandung. Perjalanan yang kurang “fresh”, karena Tomi terlihat murung dan seperti menghindari percakapan dengan Andra.

“Tom, inget nggak sama Ayuko?”, tiba-tiba ANdra ingat akan Ayuko yang mungkin bisa membuat Tomi keluar dari kemurungannya. Jadi dicobanya bicara dengan topik Ayuko.

“Inget mas. Gimana sekarang dia mas? Udah balik ke Jepang lagi ya?”

“Bulan lalu dia nulis di blogku. DIa titip salam tuh ma kamu. Hehehe…dia masih inget tuh waktu masuk sungai ama kamu. Hahaha…lucu banget deh”

Andra tambah semangat cerita tentang AYuko, karena Tomi terlihat mulai keluar dari “sarang”nya.

AKhirnya pembicaraan mulai mengalir lancar, sampai kemudian Andrapun mendapat curahan hati Tomi.

“Bener mas. Aku gak betah di Bandung, tapi Papa dan Mama maunya aku bertahan dulu setahun dua trahun. Mana aku tahan mas, setahun itu kan lama, apalagi sampai dua tahun. Huh….”

“Lho dulu yang pingin ke Bandung bukannya kamu Tom? Kamu pingin sekolah di ITB dan pingin pindah ke SMA di Bandung agar sudah merasakan aroma ITB sebelum masuk ITB. Gitu kan, kalau gak salah?”

“Iya sih. Tapi ternyata Bandung gak ramah banget. Nyebelin semua”

“Apanya sih yang nyebelin?”, Andra jadi ikut penasaran juga. Bandung yang jadi magnet semua orang kok dianggap nyebelin oleh Tomi, pasti ada yang tidak beres disini.

“Banyak mas. Orangnya, bahasanya, suasananya, semuanya deh… Gak ada yang bikin seneng”

Andra jadi inget pak Dhe. APa ya yang biasa disampaikan pak Dhe kalau ada suasana seperti ini?

“Oke Tom, kita bahas satu demi satu yuk…”

“…..”

“Orang Bandung setahuku baik-baik, minimal kulitnya kuning bersih”, Andra mencoba melucu

“Iya, tapi cuek semua ama aku. Gak ada yang bisa bikin seneng, semua nyebelin. Kalau udah ngomong bahasa Sunda, aku udah kayak patung bernyawa deh… sebeeel banget”

“Kamu kan dulu lahir di Bandung, Bu Lik juga besar di Bandung, masak kamu gak bisa bahasa SUnda?”

“Papa sih kalau ngomong sama Mama selalu saja bahasa Indonesia, kadang bahasa Jawa, aku jadi tidak tahu semua bahasa kecuali bahasa Indonesia”, sungut Tomi membuat Andra jadi tersenyum.

“Oke Tom, aku mau cerita aja deh. Ini cerita yang kudapat dari pak Dhe tentang pekerjaan kawannya”

“…”

“Suatu hari kawan pak Dhe ini, sebut saja namanya Ridwan, ditempatkan di bagian pengetesan, padahal dia sama sekali tidak suka pekerjaan itu. Dia sudah terlatih di bagian produksi, sehingga dia malas untuk pindah tugas ke bagian lain”

“Pekerjaannya jadi terbengkalai, dia jadi suka mbolos dan selalu melampiaskan kekesalannya pada siapapun, sampai akhirnya dia ketemu pak Dhe”

“Nah, saran pak Dhe pada Ridwan adalah meminta Ridwan untuk segera keluar dari pabrik. Tentu Ridwan menolak saran itu, karena dia masih perlu gaji untuk menghidupi anak-istrinya”

“….”

“Kata pak Dhe, kalau tidak mau keluar, sebaiknya Ridwan mulai belajar menyukai pekerjaan barunya. Lupakan hal-hal yang bisa membuat jengkel pada pekerjaan barunya dan selalu berupaya untuk menemukan hal-hal sekecil apapun yang membuatnya bisa mencintai pekerjaan barunya”

“……”

“Ridwan akhirnya sadar, bahwa kalau diteruskan, maka bukan tidak mungkin dia akan dipecat dari pekerjaannya, jadi mulai saat itu diapun rajin mencari hal-hal yang dapat membuatnya senang di pekerjaan barunya. Pekerja-pekerja di unit kerjanya yang tadinya jengkel dengan ulah Ridwan, mulai menerima Ridwan dan mulai saling akrab dan akhirnya terbentuklah tim yang solid di unit kerja Ridwan”

“……”

“Yang lebih menakjubkan lagi, Ridwan ini akhirnya keluar dari pabrik dan mendirikan usaha kecil yang kemudian menjadi mitra binaan dari pabrik tempatnya bekerja. Pengetahuannya di berbagai bidang tugas di pekerjaan lamanya telah membuatnya menjadi yakin bahwa diapun mampu mengkoordinasikan sebuah pabrik mini”

“Mas, itu cerita pak Ridwan yang rumahnya di dekat kue roti itu ya?’

“Bener Tom, kamu pernah denger juga cerita itu?”

“Aku pernah dengar selintas saja. Aku kenal orangnya, tapi dia mungkin tidak kenal aku. Anaknya kan sebangku sama aku”

“Lho bukannya anaknya pak Ridwan itu cewek?”

“Itulah yang bikin aku be te. Masak di sekolah itu aku satu-satunya yang duduk ama lawan jenis. Sebel banget deh…”

“Hahahaha…..”, berderai tawa Andra mendengar perkataan Tomi.

Tak terasa, akhirnya sampai juga mereka di Bandung.

Andra hanya berdoa, semoga ceritanya mampu membangkitkan semangat Tomi, karena tidak ada gunanya menimbun energi negatip. Hanya energi positip yahng akan membuat Tomi terlepas dari jebakannya sendiri.

Bila merasa terjebak, maka cobalah untuk keluar dari jebakan, bila tidak bisa keluar, maka nikmatilah jebakan itu, jangan-jangan yang dianggap jebakan adalah salah satu jalan kesuksesan kita.

Semoga….! (125)

Leave a Reply