Hargailah Bahasamu Nak

Saat pak Bupati memberikan sambutan di acara Heritage of Percussion, terlihat seseorang yang cukup perlente mendampingi beliau di depan para hadirin. Rupanya pendamping ini berfungsi sebagai penterjemah pak Bupati yang berpidato memakai bahasa Indonesia di depan tamu-tamu yang bercampur antara WNI dan WNA.

“Wah pak Saad kalau disuruh bicara bahasa Arab gak perlu penterjemah, tapi kalau bahasa Inggris rupanya beliau milih memakai penterjemah”, demikian celetukan penonton acara Heritage of Percussion itu.

Ucapan itu bisa jadi benar bisa jadi tidak benar. Mengingat pak Bupati adalah orang yang rendah hati dan dosen yang baik, maka bisa jadi beliau memang paham bahasa Inggris tetapi tetap berbahasa Indonesia untuk menghormati bahasa Ibunya.

Memang ada kemungkinan beliau tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik dan terpaksa memakai jasa penterjemah dalam menyampaikan pidatonya. Kita berbaik sangka sajalah, bahwa beliau saat itu sedang menunjukkan jati dirinya sebagai seorang WNI yang baik dengan berbahasa Indonesia yang baik.

Kesulitan berbahasa Inggris memang hampir dipunyai oleh banyak WNI, tetapi jangan lupa kesulitan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar juga masih menjadi masalah di Indonesia. Masih banyak kerancuan dalam berbahasa Indonesia sesuai EYD.

Masih banyak orang yang ragu menyebut data dan masih lebih suka menyebut data-data.

Masih banyak yang belum familiar dengan kata rerata, mangkus dll, padahal itulah kata yang sesuai dengan EYD. Syukurlah di jaman internet ini sudah banyak situs yang menyediakan akses unduh gratis Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satunya silahkan unduh disini, sehingga belajar bahasa Indonesia sudah menjadi semakin mudah.

Lalu bagaimana nasib bahasa daerah? Bahasa Jawa, bahasa Sunda dan bahasa lainnya?

Tentu masih harus dipertanyakan lagi, karena banyak orang tua yang dalam keshariannya memakai bahasa Indonesia pergaulan di rumahnya, sehingga ketika anaknya bersekolah di daerah yang menetapkan bahasa daerah sebagai bahasa yang perlu dipelajari, maka masalahpun muncul.

Kembali kita harus berterima kasih pada para penyedia aplikasi gratis kamus bahasa daerah. Tidak banyak memang situs penyedia kamus ini, tetapi setidaknya ada yang bisa dipilih sebagai tempat mengunduh. Salah satu contohnya silahkan lihat disini.

Bagi yang ingin belajar bahasa pergaulan versi Yogyakarta atau semarang, silahkan belajar disini.

Marilah kita hargai bahasa kita sendiri sebelum belajar bahasa orang lain. Bahasa Asing itu penting, tapi jangan lupakan bahasa ibumu.

Dari Wikiquote Indonesia, koleksi kutipan bebas berbahasa Indonesia.
Bahasa menunjukkan bangsa
  1. tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka
  2. kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya
  3. bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.

+++

HA NA CA RA KA

HA NA CA RA KA

sumber gambar : internet

+++

unduh kamus jawa disini sedang kamus besar bahasa indonesia disini

15 thoughts on “Hargailah Bahasamu Nak

  1. Saya sendiri gak bisa bahasa Jawa. Bisanya bahasa suroboyoan. Anehnya dulu saat SD dan SMP gak diajarkan bahasa suroboyan, tapi bahasa jawa tengah yang halus itu.

    • hahaha….
      makanya setelah dewasa bapak terlihat halus dan penuh sopan santun

      selalu penuh senyum dimana saja berada, benar-benar mencontoh kebiasaan nabi kita Muhammad SAW

      salam

    • aku tahu sebenarnya komentar mas Andy harus dibaca sebagai berikut :

      walaupun … bisa macam2 bahasa, saya tetap bangga masih bisa berbahasa Indonesia dengan baik…

      salut buat mas Andy

  2. Dimana-mana memang bahasa daerah itu dah jarang dipake,, bahkan Bahasa indonesia yg benarpun cuma ada dalam pelajaran disekolah.. kita2 jadi ikutan latah pakai bahasa gaul n bahasa blogger nih.. hehe

  3. saya sangat gusar dengan semakin merananya bahasa daerah.seolah manusia ini tak bangga dengan bahasa daerahnya bahkan bahasa nasionalnya
    lebih bangga dgn bahasa orang lain (doh)

  4. bahasa daerah pun semakin pudar dengan asimilasi (perkawinan antar suku atau migrasi ke daerah lain).. ya kaya saya ini.. 🙂

    • hahahahaha…..
      perkawinan satu suku saja tidak memberikan pemahaman yang lebih masalah bahasa daerah apalagi perkawinan antar suku ya….

      salam

  5. bahasa daerah memang semakin terpinggirkan.
    apalagi dengan adanya pemikiran spt ini :
    “buat apa belajar bahasa daerah, wong ga akan pernah dipertanyakan di CV saat melamar kerja satu hari nanti…..”
    menyedihkan? Biasa aja hehehe … memang begitu ‘kan?

Tinggalkan Balasan