Okenya Keluarga Pak Oke [1]

“Kisah hidup bapak ini kalau ditulis pasti menarik lho pak”, begitu kata anak mbarepku.

Kalimat itu terus membayangiku kemanapun aku membuka mata, bahkan juga ketika aku memejamkan mata, apalagi kalimat itu sering diulang oleh anak-anakku, sehingga akhirnya kubulatkan tekad untuk mulai menuliskannya.

Sesungguhnya aku takut dianggap narsis dan terlalu melebih-lebihkan kejadian yang kutulis, padahal aku adalah orang yang santun dan suka merendahkan diri, tapi biarlah para pembaca saja yang nanti menilai diriku apa adanya. Apapaun anggapan para pembaca akan aku terima dengan lapang dada, bahkan bila itu berupa pujian ataupun sanjungan.

Semua akan kuterima dengan senyum, karena sesungguhnya pujian dan sanjungan itu lebih kejam dari kritikan yang sepedas apapun.

Buat teman-teman Mastermind Cikarang, inilah buku keduaku yang kujanjikan dalam pertemuan dwi mingguan kita.

+++

Kumulai kisahku dari saat kelahiranku di Yogyakarta, dengan mengambil tempat kelahiran di RS PKU MUhammadiyah. Tentu sebagai anak dari sepasang suami istri yang menjadi penggemar berat Muhammadiyah, maka warna warni hidupku akan selalu penuh dengan nuansa Muhammadiyah.

Itulah hari Senin, tanggal 14 September 1959. Hari yang sangat spesial bagi kedua orang tuaku. Itu juga hari yang sangat spesial bagi teman-teman bapakku, karena mereka memang sangat dekat dengan bapakku dan suka mengendongku saat mereka bermain di rumahku.

Aku tentu tidak dapat merasakan memori yang ini, tetapi foto-foto yang kulihat dan cerita yang kudengar menunjukkan bahwa teman-teman bapakku suka sekali dengan kelahiranku.

Pertemanan yang begitu erat antara bapakku dengan teman-temannya rasanya memang sangat membekas di hatiku, itu juga yang membuat aku selalu punya prinsip bahwa “satu musuh kebanyakan dan seribu sahabat terasa masih kurang”.

Pertemanan mereka juga sangat profesional. Masalah beri memberi uang atau hadiah adalah hal yang lumrah, meskipun yang terjadi adalah keluarga kami menerima pemberian mereka dan bukan keluarga kami memberi mereka. Namun kalau sudah soal bisnis, maka uang serupiahpun akan dituntut oleh teman-teman bapakku.

Di usia balita itu, aku tidak banyak bermain dengan tetangga. Aku hanya bermain di depan rumah saja dan jarang lebih dari 10 m dari rumahku. Sampai akhirnya aku pindah ke rumah lain yang terletak di tepi Jalan Kemetiran Kidul no 33 Ypgyakarta.

Saat itu aku mulai bermain lebih jauh dari rumah dan aku benar-benar takjub menemukan banyak orang yang sebaya denganku. Mereka bermain dengan segala macam jenis permainan dan menjadikanku sebagai seorang anak yang mereka hormati. Mungkin karena aku anak pak RT, sehingga orang tua teman-teman sebayaku itu selalu menjagaku agar tidak dijahili oleh anak-anak mereka.

Aku tentu tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Aku ingin juga bisa bermain air dan berkotor-ria dengan lumpur yang menempel di kakiku atau di tanganku, tapi hal itu agak sulit kulakukan, karena akan banyak yang membimbingku ke rumah kalau aku melakukannya.

Aku akhirnya mulai mendapatkan perasaan yang nyaman ketika mulai bersekolah dan punya teman yang bisa kuajak bermain sesukaku tanpa ada yang mengawasiku.

Taman Kanak-kanakku yang tadinya bertempat di Jalan Malioboro [sekarang hotel Mutiara] dipindahkan ke Sosrowijayan dan itu membuat perjalanan dari rumah ke sekolah menjadi lebih dekat.

Aku suka berdiri paling kanan saat menyeberang Jalan besar. Itulah simpang empat antara Jalan Kemetiran Kidul dengan Jalan Dagen. Rasanya ada kebanggaan tersendiri kalau bisa membantu teman-temanku menyeberang jalan besar itu.

Biasanya aku berangkat berempat dengan dua saudaraku dan satu temanku. Ada Mas Yono, Mbak Anik dan Agus [nduh]. Mas Yono dan mbak Anik adalah anak pak Dhe Waluyo, bu Waluyo adalah kakak dari bapakku yang tinggal pas berdampingan dengan rumahku di Jalan Kemetiran Kidul no 31.

Agus yang sering dipanggil nduh oleh mas Harya [Hasmi, pengarang komik Gundala] tinggal di simpang empat itu di klinik Rahayu dan kami sering bermain di rumah sekaligus klinik orang tuanya.

Kami kadang heran ketika mendengar suara kesakitan dan minta ampun dari orang-orang yang kesulitan saat melahirkan bayinya.

“Hahaha…bu Anu itu minta ampun saat melahirkan, tapi tahun depan lihat saja dia akan datang lagi ke klinik”, begitu yang kudengar dari anak-anak ABG yang sering bercerita tentang kejadian itu.

Saat itu aku tidak paham dengan kalimat itu, tapi kalimat itu sering kudengar dan sering menjadi bahan tertawaan para ABG itu.

Sekolah di TK Netral memang banyak memberi kenangan bagiku, apalagi aku pernah juara sholat subuh di sekolah itu. Kalau tidak salah ingat aku mendapat hadiah sarung. Sayangnya aku kurang rajin membaca Al Quran, sehingga aku tidak pernah bisa ikut lomba membaca Al Quran, mungkin karena suaraku terlalu merdu, sehingga para ustadz tidak memasukkan aku dalam lomba membaca Al Quran.

Di kampungku Kemetiran Kidul memang ada sebuah rumah yang dihuni oleh para mahasiswa dan selalu dijadikan sebagai tempat pengajian anak-anak. Sayangnya terlalu banyak anak yang mengaji dibanding guru yang megajar, sehingga aku lebih suka bermain dibanding mengaji.

Aku tidak tahu apakah hal itu yang meyebabkan aku dipindahkan ke tempat ngaji yang lebih keras yaitu di masjid yang terletak di dekat stasiun Tugu atau mungkin orang tuaku ingin anaknya lebih pintar mengaji kalau tempat ngajinya bukan di rumah orang tetapi di sebuah kompleks masjid.

Yang terjadi tetap saja seperti yang kurasakan di rumah pengajian. Aku lebih banyak memikirkan hal lain daripada mengaji.

Pelajaran di masjid ini terlalu tinggi buatku, sehingga aku lebih sering bengong tidak tahu apa yang kukerjakan, bahkan aku sempat melakukan perbuatan yang sangat bodoh.

Aku membawa pisau silet dari rumah dan mulai berkreasi dengan kain sarung baruku sambil mengikuti pelajaran dari pak Ustadz yang jauh di depan sana. Sarung barukupun bolong-bolong jadinya terkena operasi pisau siletku.

Tak ada sedikitpun prestasiku di sekolah ngaji ini, bahkan akhirnya aku benar-benar bosan dengan suasana ini. Akupun kembali melakukan tindakan terbodoh di dunia. Kusimpan buku Juzama di atas plafond dan kupakai sebagai alasan untuk tidak berangkat ke masjid untuk ngaji.

Benar-benar tindakan yang sangat kusesali sampai saat ini. Bahkan ketika akhirnya aku disadarkan akan pentingnya mengaji, maka aku benar-benar merasa bodoh saat itu. Kesadaraku akan pentingnya mengaji membuatku naik plafond lagi untuk mengambil buku Juzamaku dan pastilah buku itu sudah habis dimakan para tikus yang begitu rajin bermain-main di plafond.

Aku hanya dapat menyesalinya dan tidak tahu harus berbuat apa, sementara bapakku cukup memandangku saja sudah mebuatku terbakar akan rasa takut.

Sayangnya ketakutanku itu hanya sebentar saja, di hari lain aku sudah lupa akan hal itu.

[bersambung]

+++

peta diambil dari sini

+++
tulisan ini untuk bahan bukuku “Okenya Keluarga Pak Oke”

Tinggalkan Balasan