Okenya keluarga Pak Oke [3]

Baru saja mengantar istri untuk beli pernak pernik buat LuLuk dan Litha yang siang ini mau ditemui istriku. Milihnya lamaaa banget, jadi aku iseng ambil saja gambar istriku yang asyik main tawar menawar dengan mbak yang jaga toko.

Akupun jadi ingat ketika kecil dan diajak ke Toko Samijaya atau Toko Ramai di jalan Malioboro. Aku mungkin termasuk anak yang konsumtif waktu itu, soalnya semua barang yang menarik selalu kutunjuk untuk dibeli.

Untungnya aku menyadari kalau orang tuaku tidak berkenan membelikan barang yang kutunjuk, jadi aku bilangnya begini,”itu suatu saat akan kubeli ya Bu?”

Ibuku biasanya tersenyum menjawab perkataanku,”Iya nak…”

“Yang itu juga ya Bu. Suatu saat akan kubeli”

Begitulah aku berkeliling toko dan menunjuk barang yang kusukai, tetapi saat pulang dari toko selalu saja tak ada satupun barang yang kubawa pulang. Semuanya masih rapi tersimpan di toko karena aku memang tidak membelinya, aku hanya menunjuk saja.

Aku suka tersenyum kalau ibuku ganti menceritakan kisah ini pada teman-teman ibuku. Terlihat senyum Ibu yang mengembang setiap hal ini diceritakannya.

Kadang kulihat kalau pas ada bapak yang menemani cerita itu, ada senyum simpul di bibir bapakku. Akupun ikut tersenyum simpul dan kadang nyungsep di pelukan ibu.

Bapakku memang selalu mewarnai hidupku. Ceritanya yang tidak pernah lepas dari ingatan adalah saat bapak masih sekecil aku dan suka mandi di sungai.

Saat bapak kecil, bersama teman-teman bapak dari kampung Suronatan Yogya, biasanya mereka berenang atau mandi di sungai dekat Gedung PLN yang ada di kampung Serangan.

Nah, suatu hari saat bapakku mencari teman-teman untuk mandi di sungai rupanya tidak ada yang ditemui. Rupanya teman-teman bapakku sudah berangkat main bersama-sama ke sungai dekat pasar Serangan.

Bapakku langsung menyusul ke lokasi sungai dan dengan teriakan ala tarzan bapakku melompat ke sungai yang sudah terlihat penuh dengan anak-anak yang bertelanjang badan.

Tentu bapakku juga bertelanjang badan sebelum meloncat ke sungai.

“Byurrr…!!!”

Airpun muncrat kemana-mana ketika tubuh bapakku menyentuh air sungai. Seperti biasa bapakku sedikit menyelam sebelum keluar dari air.

Begitu keluar dari air, ternyata anak-anak telanjang yang ada di sekitar bapakku bukanlah anak-anak dari kampung Suronatan. Mereka adalah anak-anak dari kampung lain yang kebetulan sedang bermusuhan dengan kampung Suronatan.

Di sela-sela keheranan anak-anak yang memang terkejut melihat seorang anak dari kampung musuh berani masuk dalam kelompok mereka, maka bapakku langsung menepi dan lari tunggang langgang kembali ke kampung Suronatan.

Aku selalu terkekeh-kekeh kalau mendengar cerita ini dan saat kuceritakan kembali pada anak-anakku, biasanya mereka juga terkekeh-kekeh. Padahal cerita ini kuulang berkali-kali di depan anak-anakku. Namun saat anak-anakku sudah besar mereka sudah tidak terkekeh-kekeh lagi, mereka sudah sama dengan bapakku, hanya tersenyum simpul saja.

Maret 2010, kukunjungi lagi sungai itu dan suasana sudah sangat berubah. Airnya jadi begitu dangkal dan sudah tidak terlihat anak-anak yang mandi di sungai.

Terlihat bangunan gedungnya jadi tambah megah dan pohon-pohonnya tambah hijau, tapi air sungainya tidak sederas dulu.

Aku yakin bapak tentu sedang tersenyum di atas sana bersama ibuku tercinta. Teirma kasih ayah bunda yang telah mengajariku untuk mendidik anak-anakku dengan baik.

Buat ayahku, aku selalu suka menyanyikan lagu Cat Stevens untuk memngenangmu. Tentu dengan suara falsku yang asli fals.

Its not time to make a change,
Just relax, take it easy.
Youre still young, thats your fault,
Theres so much you have to know.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but Im happy.

I was once like you are now, and I know that its not easy,
To be calm when youve found something going on.
But take your time, think a lot,
Why, think of everything youve got.
For you will still be here tomorrow, but your dreams may not.

Son
How can I try to explain, when I do he turns away again.
Its always been the same, same old story.
From the moment I could talk I was ordered to listen.
Now theres a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.

Father
Its not time to make a change,
Just sit down, take it slowly.
Youre still young, thats your fault,
Theres so much you have to go through.
Find a girl, settle down,
If you want you can marry.
Look at me, I am old, but Im happy.
(son– away away away, I know I have to
Make this decision alone – no)
Son
All the times that I cried, keeping all the things I knew inside,
Its hard, but its harder to ignore it.
If they were right, Id agree, but its them you know not me.
Now theres a way and I know that I have to go away.
I know I have to go.
(father– stay stay stay, why must you go and
Make this decision alone? )

Bapakku, Aku memegang Luluk, Istriku dan Ibuku.

2 thoughts on “Okenya keluarga Pak Oke [3]

  1. orang tua memang selalu menjadikan yang terbaik utk anaknya. Karenanya layak bila ridha mereka menjadi salah satu konsideran ke-ridha-an Allah

    • Bagi yang masih lengkap ortunya, semoga terinspirasi untuk dapat membalas kebaikan mereka sebelum ortunya menghadap padaNya.

      “Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku seperti merek amenyayangiku ketik aaku kecil”

      Amin.
      .-= eshape´s last blog ..Belajar Bisnis dari Kecil =-.

Tinggalkan Balasan