Akhirnya Mudik juga

“Jadi mudik mas Din?”

“Jadi mas, sebentar lagi”

“Fuih…cuaca sangat cerah, secerah hati mas Din yang mau Mudik nih. Hahaha…”

“Iya nih cuaca sangat cerah”

“Kok mas Din gak semangat njawabnya”

“Semangat kok, nih lihat senyumku”

Khalid langsung duduk disamping Udin. Bagaimanapun persahabatan yang mereka jalani selama ini membuat Khalid tahu bahwa ada kegundahan di hati udin.

Tak sampai beberapa menit, Udinpun mulai bercerita tentang Syaiful, adiknya yang ada di Medan.

“Baru saja adikku kecopetan, dia kirim SMS padaku bahwa semua barangnya habis dicopet. Ketika dia lapor ke pos polisi, malah sepeda motornya ikut hilang di kantor polisi itu”

“……”

“Aku heran dengan rahasia Allah yang ini. Bagaimana orang sesederhana Syaiful bisa kecopetan, padahal semua yang hilang itu dia kumpulkan serupiah demi serupiah”

“Insya Allah nanti ada ganti yang lebih baik dari yang hilang mas”

“Itulah SMS yang kukirim padanya. Aku sedih karena dia balas SMS itu dengan kalimat yang membuatku terpukul”

“……..”

Udin menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, sementara Khalid yang biasanya beringasan terlihat menahan diri, menunggu kalimat dari Udin.

“Tuhan sedang tidur mas, begitu isi SMS Syaiful”

“Astaghfirullah….”

“Aku baru saja membaca artikel Tuhan Maha Oke dan balasan SMS Syaiful seperti menohok diriku. Betapa menderitanya Syaiful aku bisa merasakannya, tapi seharusnya dia tidak menjawab seperti itu”

“Mungkin Ipul sedang tidak sadar benar ketika nulis SMS itu mas. Aku kenal adik mas Din seperti kenal diriku sendiri. Kita sudah seperti saudara mas”

“Aku memang tidak dekat dengan Syaiful, tapi dia adalah adik laki-laki satu-satunya di keluargaku dan dia adalah anak kesayangan Ibu. Aku tidak bisa membayangkan kalau ibu tahu jawaban SMS Syaiful padaku”

“Ibu pasti maklum mas Din. Ibu selalu maklum akan apa yang dialami anak-anaknya. Aku juga yakin hal ini mas”

“Andai saja ada pak Dhe di Medan, pasti pak Dhe bisa menjadi tempat curahan hati Syaiful”

“Pak Dhe? Bukannya pak Dhe memang ke Medan awal puasa kemarin?”

“Bukan pak Dhe kita, tapi pak Dhe Ahmad, kakak laki-laki satu-satunya ibuku yang tinggal di Medan tapi tidak juga ketahuan alamatnya dimana”

“Ooo…sudah lama ya pak Dhe Ahmad di Medan?”

“Sudah puluhan tahun, sejak aku masih SD. Aku kenal sosok pak Dhe Ahmad mirip dengan pak Dhe kita. Selalu ceria dan tak pernah kenal putus asa. Selalu aja ada cara untuk menyelesaikan masalah”

“Semoga Ipul cepet menyadari kesalahannya terhadap Tuhan mas”

“Insya Allah. Amin”

“Sudah kirim SMS lagi mas?”

“Sudah dan sampai sekarang dia masih belum menjawab”

Tiba-tiba terdengar suara SMS masuk di ponsel Udin. Perlahan Udin menatap ponselnya dan mulai menekan tombol baca SMS. Tak berapa lama membaca, tiba-tiba Udin bangkit berdiri dan melakukan sujud di depan Khalid.

Terpana Khalid melihat adegan di depannya. Begitu bangkit dari sujud, Udin langsung memeluk Khalid dengan sepenuh jiwanya. Pelukan sepasang sahabat yang begitu erat terjadi di pagi hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan ini.

“Apa isi SMS itu mas”

Syaiful akan mudik ke Jakarta…”

“Begitu saja?”

“Tidak”

“Apa kelanjutannya?”

“Dia bertemu dengan pak Dhe Ahmad dan semua harta yang hilang jadi tidak berarti dibanding bertemunya dia dengan pak Dhe Ahmad”

“Subhanallah”

“Ya..Tuhan memang Maha Oke. Apa yang kita minta dari hati, pasti segera dikabulkannya”

Pagi yang cerah ini menandai cerahnya hati sepasang sahabat itu. Nun jauh di Medan ada sebuah pertemuan yang lama dinanti antara keponakan dan pak Dhenya.

“Subhanallah, begitulah Tuhan mengatur kehidupan di dunia ini”

2 thoughts on “Akhirnya Mudik juga

  1. Pingback: H-3 : Jakarta – Jogja 12 jam « Info Seputar Mudik

Tinggalkan Balasan