“Terima kasih pak, sudah mau datang ke tempat kita. Biarpun bapak tidak bawa apa-apa, kami sangat menghargai perhatian bapak”
“Bapak Eko ya? Silahkan masuk,sudah kami tunggu pak…”
Banyak sekali sambutan hangat yang kuterima saat mengunjungi rumah teman-teman yang terkena musibah Merapi. Ini mirip tahun lalu ketika aku berkunjung ke Padang dalam rangka peduli Gempa Padang.
Kukunjungi semua temqan-teman yang rumahnya disembur Merapi. Mereka lebih terkesan dengan kedatanganku dibanding dengan bantuan berupa uang yang dijanjikan akan diberikan beberapa saat lagi. Uang memang penting, tapi bukan segala-galanya.
Solidaritas langsung terbentuk di antara kita saat saudara kita tertimpa bencana. Kita saling bahu membahu mengumpulkan dana untuk korban gempa Padang dan saat ini kita kembali “dipaksa” untuk mengingat kembali nikmatnya bergotong royong.
Di salah satu rumah ungsian, kulihat ada raut muka sedih tetapi tetap saja terlihat raut muka pasrah pada kejadian yang menimpa mereka.
“Ini adalah suatu hal yang sudah terjadi, jadi yang bisa kita lakukan hanya menjalani dan mencari hikmah dari kejadian ini”
“Selama umur saya, maka ini adalah kemarahan terbesar dari Merapi. Pohon nangka saya sampai patah jadi dua, semua pohon kelapa juga seperti tertunduk dengan membentuk dirinya seperti payung tertutup”
Banyak sekali kalimat hikmah yang muncul selama perjalanaku mengunjungi teman-teman yang rumahnya terkena bencana merapi.
“Banyak saudaraku di Jogya, tapi ibuku tetap saja minta untuk tinggal di pengungsian dengan fasilitas seadanya. Dia hanya ingin tetap berkumpul dengan tetangga kampungnya dulu dan bukan dengan tetangga kampung saudaranya yang tinggal di kota”
“Bayangkan saja, hari itu listrik mati, merapi bergemuruh dengan suaranya yang mengerikan dan suasana yang kacau balau. Aku sudah pesan ibuku untuk menunggu di pinggir jalan, agar nanti saat diangkut oleh kendaraan penjemput ke tempat pengungsian bisa berbarengan. Tenryata ibuku ikut mobil tetangga, jadinya kami yang sibuk mencarinya. Alhamdulillah setelah beberapa hari keliling di pengungsian ketemu juga dengan ibuku”
“Ada seorang pengungsi yang datang ke rumahku dan kukenali dia sebagai tetanggaku di kampung. Langsung kutanya dimana ibuku dan pagi tadi aku akhirnya menemukan ibuku setelah seminggu kucari-cari tidak ketemu. Siangnya pak Eko langsung mengajakku menengok kawan-kawan lainnya”
Ada haru yang mendesak dalam dada setiap emndengar cerita mereka. Kupasang senyum di bibirku, tetapi dalam hati aku sebenarnya sudah tidak bisa tersenyum. Sungguh menderita kehidupan mereka.
Bagaimana mereka bisa tetap nyaman hidup di udara yang bertabur silikon. Merekapun tdiak lagi bisa menikmati air dengan nyaman, meskipun soal bahan makanan mungkin mereka masih mendapat bantuan yang memadai. Tapi sampai kapan keadaan ini berlangsung?
Siapa yang bisa memprediksi kondisi yang akan datang?
Hanya Tuhan yang Maha Tahu akan apa yang akan terjadi besok atau lusa. Kita hanya bisa menjalani dan mensyukuri terhadap apa yang kita terima.
47 views













semoga bencana cepat usai (worship)
addiehf�´s last [type] ..Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia
amin
(workship)
makasih doanya mas Addiehf
salam sehati
eko sutrisno hp�´s last [type] ..Hati-hati Sungai Code
I just couldnt leave your site before telling you tha I really enjoyed the quality information you offer for your visitors. I am going to be back often hoping to see new posts
Excellent blog, saved the site in hopes to see more information!
This excellent post encouraged me a lot! Saved the blog, extremely excellent categories just about everywhere that I read here! I really appreciate the information, thanks.