Cameraku merknya iPhone, Galaxy S3 atau Note

“Mas, kuperhatikan dari kemarin kok nggak pernah nelpon pakai iPhone, lebih sering pakai BB. Kenapa?”, kata kawanku oada kawanku yang lain ketika kita sedang hunting lokasi wisata.

“Memang iPhone ini sering kupakai sebagai gadget untuk mengambil foto dan mengirimkannya via social media, sedangkan BB memang kubeli untuk BBM dan komunikasi telpon”

“Kok tidak beli camera saja? Kan sayang barang mahal hanya dipakai untuk motret”

“Hahaha…. gak kok, enakan pakai iPhone”

“Lho, harga iPhone itu sudah dapat untuk membeli camera prosumer bahkan DSLR lho”

“DSLR tidak bisa Whatsapp dan PATH mas”

Kami tertawa bersama mendengar dialog dua kawan dalam rombongan ini. Akupun jadi ingat saat internet diperkenalkan pada tahun 90an. Pada saat itu, komputer dipakai untuk chatting, baik yang tertulis maupun yang memakai sarana audio. Sementara itu, ponsel segede gajah malah lebih sering dipakai untuk kirim SMS dibanding untuk berkomunikasi memakai suara.

Pergeseran fungsi ini membuat ponsel dibeli bukan karena dia bisa dipakai untuk berkomunikasi via suara, tetapi tergantung pada fungsi lain yang menyertai ponsel itu. Ada yang dipilih karena cameranya, seperti iPhone, Galaxy S3 atau Note.

Ada juga ponsel yang dipilih karena bisa menyetel TV atau yang bisa mengelola dua simcard yang berbeda. Sangat jarang ponsel dipilih karena kualitas bertelponnya yang sangat canggh. Kualitas bertelpon sudah harus menjadi syarat dasar sebuah ponsel, sehingga yang dipertandingkan sekarang adalah kualitas pendamping sarana telpon.

Dermaga wakatobi difoto dengan iPhone 4S dan diupload via PATH

Dermaga wakatobi difoto dengan iPhone 4S dan diupload via PATH

Selain kualitas camera, yang juga menjadi pemikiran para pengguna ponsel adalah daya tahan batere. Para pengguna smartphone canggih pasti sangat jengkel ketika masih asyik menggunakan ponsel tetapi ternyata ponselnya sudah low bat.

Minat akan perlunya ponsel yang awet baterenya ini ternyata di lapangan tidak didukung sepenuhnya oleh para vendor. Yang digelontorkan di pasaran tetap adalah persaingan di fitur smartphone yang akibatnya justru makin membuat batere makin boros.

Layar yang makiin besar, kualitas layar yang makin jernih, semuanya itu membuat penggunaan batere makin boros. Calon pembelipun dibuat pasrah menerima ponsel baru yang kadang justru makin boros batere, padahal sudah memakai teknologi yang lebih hemat pemakaian batere.

Gap inilah yang menjadi pemikiran para vendor mobile charger untuk menciptakan mobile chrager yang menjadi tandem semua gadget canggih. Berbagai merekpun bermunculan. Dengan gaya masing-masing para vendor berlomba menarik minat para pemilik gadget canggih untuk memilih mereka sebagai pendamping sang gadget.

Harganyapun sangat bervariasi. Mulai dari yang harganya ratusan ribu sampai yang jutaan rupiah. Mobile charger jadi buruan dan kita harus pandai memilihnya.

Menjelang lebaran ini, gadget pasti akan laris manis. Sifat konsumtif sudah menjadi darah daging masyarakat kita. Ponsel baru akan terus diburu, ponsel lama juga akan diburu karena dengan datangnya ponsel baru, maka ponsel lama jadi turun harganya. Samsung Galaxy SII yang dulu di atas 5.5 juta, saat ini mungkin sudah di bawah 5 jutaan. Masalahnya mencari penjualnya yang kadang-kadang malah sulit.

Apapun yang terjadi pilih yang sesuai kemampuan dan kebutuhan. Jangan tergiur dengan fitur baru kalau ternyata tidka bermanfaat untuk kita dalam pemakaian sehari-hari. *)

Salam sehati

Canon 60D difoto dengan iPhone 4S

Canon 60D difoto dengan iPhone 4S

+++
*) nasehat diri

One thought on “Cameraku merknya iPhone, Galaxy S3 atau Note

Tinggalkan Balasan